Mengapa Aku Menyimpan Debu
Ada satu lemari kaca kecil di sudut ruang bacaanku. Di dalamnya, tidak ada barang mahal atau pusaka keluarga. Isinya: setumpuk kertas lusuh, dua buah kelereng usang, satu kancing baju, satu lembar tiket bus dari tahun 1994, dan secarik foto yang sudah hampir putih karena pudar.
Tamu yang datang sering bertanya, "Untuk apa semua itu? Tidak berharga."
Aku hanya tersenyum.
Kertas lusuh itu adalah lembar pertama dari buku harian sahabatku yang meninggal saat SMA. Kelereng itu adalah sisa dari koleksi yang aku mainkan dengan adikku di sore hari sebelum dia merantau dan jarang pulang. Kancing itu milik baju pertama yang aku beli dari hasil kerja sampingan. Tiket bus itu adalah bukti bahwa aku pernah berani bepergian sendirian untuk pertama kali. Dan foto yang hampir putih itu adalah potret ibuku saat masih muda, senyumnya masih penuh mimpi sebelum kehidupan menjadi terlalu keras.
Semua benda ini adalah altar pribadiku. Sebuah ruang kecil yang aku persembahkan untuk mengenang bahwa aku pernah hidup. Bahwa aku pernah mencintai, kehilangan, berani, dan takut.
Vintage bukan tentang tahun berapa barang itu dibuat. Vintage adalah tentang seberapa banyak hati yang pernah menyentuhnya.
Orang sering mengira mencintai vintage adalah tentang estetika. Tentang gaya retro, tentang foto dengan filter sepia, tentang koleksi benda-benda antik yang mahal. Tapi bagiku, setelah menulis 10 artikel ini dan merenung, vintage lebih dalam dari itu.
Vintage adalah:
Sebuah cara untuk berdamai dengan waktu yang terus berjalan.
Sebuah pengakuan bahwa hal-hal kecil itu penting.
Sebuah upaya untuk tidak melupakan di dunia yang terus memaksa kita untuk move on.
Sebuah pelukan pada masa lalu, tanpa harus terjebak di dalamnya.
Koleksi di almariku itu tidak akan pernah laku dijual. Tidak ada yang mau membeli kelereng usang atau tiket bus usang. Tapi bagiku, benda-benda itu adalah harta karun yang tak ternilai. Karena di dalamnya tersimpan potongan-potongan diriku yang tidak akan pernah kembali.
Maka, biarkan orang lain mengejar yang baru. Aku akan tetap menyimpan yang lama. Bukan karena aku tak bisa berubah, tapi karena aku ingin ingat: bahwa setiap perubahan berawal dari sesuatu yang dulu pernah kita cintai.
Dan di lemari kaca itulah, di sudut ruang bacaanku, aku duduk setiap malam, memandangi benda-benda kecil itu, dan berbisik pada diriku sendiri:
"Kamu sudah sampai sejauh ini. Dan itu luar biasa."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar