Radio yang Masih Berbisik
Radio tua itu sudah tidak menyala selama mungkin. Tapi kalau malam sunyi dan aku duduk dekatnya, kupingku seolah masih bisa menangkap gema.
Bukan suara. Tapi sisa-sisa suara. Gemuruh siaran langsung pertandingan Persib, sorak penonton yang seperti letupan dari masa lalu. Lalu menyelinap suara mendesing dari pidato Bung Karno, yang dulu membuat kakekku duduk tegak dan matanya berbinar. Di sela-sela desis frekuensi, terkadang terasa gemerincing gelas teh yang diaduk, atau tawa kecil nenekku yang malu-malu.
Orang bilang benda mati. Aku tidak percaya. Benda-benda lama itu seperti spons yang telah menyerap puluhan tahun emosi. Mereka menyimpannya di dalam kayu, di dalam tabung kaca, di dalam lapisan debu. Tugas kita adalah punya kepekaan untuk "mendengarkan" bisikannya.
Vintage adalah bahasa yang tidak diucapkan. Ia komunikasi melalui keausan, melalui aroma, melalui ketidaksempurnaan yang justru menjadi tanda pengenal paling intim. Radio ini tidak lagi berbicara tentang berita hari ini. Ia kini bercerita tentang suasana sebuah ruang keluarga di era yang berbeda, tentang bagaimana sebuah bangsa mendengarkan dunia, tentang kebersamaan yang terpusat pada satu kotak suara.
Maka, aku biarkan dia di sudut ruangan. Tidak untuk didengarkan, tapi untuk menjadi pengingat: bahwa sebelum algoritma media sosial menentukan apa yang kita dengar, ada sebuah masa di mana kita bersama-sama menanti, memutar tombol, dan berbagi satu frekuensi yang sama. Ada sebuah keheningan yang aktif, penuh antisipasi, di antara desis dan suara itu.
.jpg)
Teringat dahulu kala ketika radio saya masih bisa dipakai!
BalasHapusSuara radionya punya jiwa! Noise halusnya itu yang bikin suasana jadi syahdu.
BalasHapuswowww sangat kerenn
BalasHapusKeren sekali jadi nostalgia
BalasHapusRadio itu kaya sebuah kotak yang menyimpan banyak kenangan🫠
BalasHapus