Menemukan Surat Cinta di Sampul Buku Tua

 

Portofolio Rindu:

Misi hari itu cuma satu: mencari novel terbitan lama di pasar loak. Tangan aku meraba-raba tumpukan buku yang berbau apek, campuran antara kertas lapuk dan debu. Lalu, terselip di antara halaman Salah Asuhan yang lusuh, aku menemukannya.

Bukan uang receh. Tapi selembar surat. Ditulis dengan tinta biru yang sudah memudar di atas kertas kop surat kantor, bertanggal 17 Maret 1972.

"Yang tersayang, pertemuan kita kemarin di halte bus itu singkat sekali. Aku masih bisa mencium aroma minyak wangi di bahu jaketku. Esok, jam empat, di tempat yang sama. Jangan bawa sahabatmu itu. Aku ingin kita berdua saja. -J"

Tiba-tiba, seluruh pasar loak menghilang. Aku terbang ke sebuah halte bus di Jakarta tahun 70-an. Bayangan dua manusia muda, gugup, penuh harap. Apa kisah mereka? Apa mereka akhirnya bersama? Ataukah ini awal dari sebuah kerinduan yang panjang?

Inilah sihir barang vintage: ia adalah kapsul waktu. Kita bukan cuma membeli benda. Tanpa sengaja, kita menjadi penjaga fragmen cerita orang asing. Kita menyimpan pecahan kenangan yang tercecer, mengembalikan napas—walau sebentar—pada kisah yang terlupakan.

Kadang aku merasa bersalah, seperti mengintip diary yang bukan milikku. Tapi lebih dari itu, aku berterima kasih. Surat itu mengingatkanku bahwa di setiap era, di balik benda-benda yang kita anggap usang, selalu ada detak jantung manusia yang sama: berdebar karena cinta, cemas akan waktu, dan punya rahasia yang hanya bisa dibisikkan pada secarik kertas.

(just for school assignments, all this made by AI)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Radio yang Masih Berbisik

Radio tua itu sudah tidak menyala selama mungkin. Tapi kalau malam sunyi dan aku duduk dekatnya, kupingku seolah masih bisa menangkap gema. ...