Selasa, 27 Januari 2026

Sepatu Kets Kakek yang Masih Berbekas Lumpur



Di teras belakang, dekat pintu dapur, ada sepasang sepatu kets kanvas putih—dulu putih, sekarang abu-abu kecoklatan karena usia. Solnya aus di bagian tumit, talinya putus di satu sisi, dan yang paling mengganggu: ada lumpur kering yang masih menempel di bagian sol.


Lumpur itu sudah mengeras seperti semen. Tidak mungkin dibersihkan tanpa merusak kanvas. Maka kami biarkan saja.


Kakek adalah petani. Setiap pagi, sebelum matahari terlalu tinggi, ia akan memakai sepatu itu dan berjalan ke sawah yang berjarak dua kilometer dari rumah. Lumpur di sol itu adalah lumpur dari sawah terakhir yang ia garap sebelum sakit dan tidak bisa bangun lagi.


Ibuku pernah bercerita, "Kakekmu itu tipe yang tidak bisa diam. Meski tubuhnya sudah mulai lemah, ia tetap ke sawah. Katanya, 'Tanah ini yang memberi kita makan. Aku harus membalasnya dengan menjaganya.'"


Sepatu itu seperti sebuah peta perjalanan terakhir. Setiap inci lumpur yang menempel adalah saksi dari sebuah dedikasi yang tak pernah diucapkan. Sebuah cinta pada tanah, pada benih padi, pada mata air yang mengalir, dan pada kerja keras yang tidak pernah meminta pengakuan.


Sekarang, rumah itu sepi. Tidak ada lagi suara sandal kayu yang berdecit di pagi buta. Tidak ada lagi embusan napas berat karena persendian yang mulai sakit. Yang tersisa hanyalah sepasang sepatu usang, dengan lumpurnya yang sudah menjadi fosil.


Tapi setiap kali aku pulang dan melihat sepatu itu, aku merasakan sesuatu yang aneh: sebuah dorongan untuk tidak malas. Sebuah teguran halus yang tidak menggunakan kata-kata. Sebuah pengingat bahwa hidup tidak hanya tentang bermalas-malasan di sofa dan menonton televisi.


Vintage kadang terasa menyebalkan karena ia terus mengingatkan kita pada sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri: pada sejarah, pada kerja keras, pada orang-orang yang telah membuka jalan sebelum kita. Tapi mungkin itulah gunanya: agar kita tidak lupa dari mana kita berasal, dan bagaimana seharusnya kita menjalani sisa hari kita.


Sepatu kets kakek masih di sana. Lumpur masih menempel. Dan aku, setiap kali pulang, akan berbisik pelan: "Terima kasih, Kek. Aku akan berusaha sekuatmu."


(just for school assignments, all this made by AI)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Radio yang Masih Berbisik

Radio tua itu sudah tidak menyala selama mungkin. Tapi kalau malam sunyi dan aku duduk dekatnya, kupingku seolah masih bisa menangkap gema. ...