Radio yang Masih Berbisik
Radio tua itu sudah tidak menyala selama mungkin. Tapi kalau malam sunyi dan aku duduk dekatnya, kupingku seolah masih bisa menangkap gema . Bukan suara. Tapi sisa-sisa suara. Gemuruh siaran langsung pertandingan Persib, sorak penonton yang seperti letupan dari masa lalu. Lalu menyelinap suara mendesing dari pidato Bung Karno, yang dulu membuat kakekku duduk tegak dan matanya berbinar. Di sela-sela desis frekuensi, terkadang terasa gemerincing gelas teh yang diaduk, atau tawa kecil nenekku yang malu-malu. Orang bilang benda mati. Aku tidak percaya. Benda-benda lama itu seperti spons yang telah menyerap puluhan tahun emosi . Mereka menyimpannya di dalam kayu, di dalam tabung kaca, di dalam lapisan debu. Tugas kita adalah punya kepekaan untuk "mendengarkan" bisikannya. Vintage adalah bahasa yang tidak diucapkan. Ia komunikasi melalui keausan, melalui aroma, melalui ketidaksempurnaan yang justru menjadi tanda pengenal paling intim. Radio ini tidak lagi berbicara ten...
.jpg)